Rabu, 04 Mei 2016

Budaya Khas Aceh Besar Dari segi Makanan

Budaya Khas Aceh Besar( Segi Makanan)

Ø Kuah Belanga(Kuah Beulangong)
Kuah beulangong. “Beulangong” artinya kuali besar atau belanga yang digunakan untuk memasak. Ukurannya dipilih yang besar, berdiameter sekitar satu meter.
Kuah beulangong adalah makanan khas Aceh, salah satunya Aceh Besar yang bahan utamanya bisa daging sapi, daging kambing, atau daging kerbau yang dicampur dengan buah nangka, atau ada juga yang menggunakan pisang kapok.
Memasak kuah beulangong membutuhkan bumbu yang cukup banyak, dan hampir sama dengan bahan dan bumbu untuk memasak kuah sie kameng, seperti kelapa gongseng, kelapa giling, cabai merah, cabai kering, cabe rawit, bawang putih, jahe, kunyit, ketumbar gongseng, kemiri, lengkuas, dan masih banyak bumbu lainnya yang semuanya digiling.
Cara membuat kuah beulangong atau resep kuah beulangong khas Aceh lumayan mudah. Daging yang sudah dipotong kecil-kecil dicuci bersih dan dimasukkan ke dalam kuali besar tadi. Aduk dengan bumbu yang Loveaceh.com sebutkan di atas sampai merata, dan jangan lupa di kasih garam yang sesuai.
Selanjutnya siram dengan air secukupnya, aduk lagi dengan tangan. Tunggu sampai daging masak setengah matang, dan juga sampai bumbunya meresap sempurna.
Siapkan buah nangka muda tadi atau bisa juga di tambah dengan buah pisang kapok yang telah di potong kecil-kecil, lalu masukkan ke dalam kuali bersama bawang yang telah dirajang. Tambahkan air lagi, dan biarkan hingga masak.
gambar Kuah Beulangong(Belanga)
http://www.loveaceh.com/wp-content/uploads/2015/12/kuah-beulangong.jpg

Ø Kuah Sie Reuboh(Daging Rebus)
Sie Reuboh, kalau dalam bahasa Indonesia “daging rebus” adalah kuliner khas Kabupaten Aceh Besar yang hingga saat ini masih di lestarikan. Saat menyambut bulan Ramadhan, kuliner daging ini wajib ada di meja makan di setiap rumah.

Tradisi Meugang di peringati sebagian besar masyarakat dua atau satu hari menjelang Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, dan Idul Adha. Di hari Meugang inilah warga membeli daging, baik daging sapi, kambing maupun daging kerbau untuk di masak.

Walaupun harga daging selalu naik di hari Meugang atau dua hari menjelang Ramadhan, bagi orang Aceh hal tersebut tidak masalah asalkan bisa kebagian membeli daging.

“Menye hana Sie Reuboh, lage hana hie sagai uroe Meugang nyo (Tanpa Sie Reuboh, hari Meugang ini terasa ada yang kurang” kata Kak Ni, ibu rumah tangga warga desa Lamleubok, Indrapuri Aceh Besar ini kepada Loveaceh.com.

Rasa Sie Reuboh yang gurih, pedas, dan asam membuatnya sangat nikmat dan lezat bila di santap dengan nasi putih hangat.

Selain membeli sendiri dagingnya, banyak juga yang patungan uang dan membeli satu ekor sapi. Sapi tersebut di potong di hari Meugang dan dibagikan rata bagi mereka yang patungan uang tersebut.

Nah, di saat masakan khas Aceh lainnya berbumbu kuat dan lengkap dan banyak terdapat rempah-rempah, masakan khas Aceh Sie Reuboh ini malah bahan membuatnya sangat sedikit dan sederhana. Seperti bawang merah, bawang putih, cabe rawit, cabe merah, dan merica.

Semua bumbu ini dihaluskan, dan dimasukkan ke dalam daging yang sudah di rebus. Sambil di aduk merata, tak lupa di kasih cuka untuk menambah rasa asamnya.

Gambar Sie Reuboh(Daging Rebus)

http://s.kaskus.id/images/2013/09/29/1734688_20130929020756.jpg

Ø Kuah Pliek U
Masakan atau gulai khas Aceh ini adalah gulai para raja yang dikenal dengan nama "kuah pliek-u." Gulai ini dibuat dari campuran berbagai jenis sayuran ditambah "pliek-u" dan kepala ikan asin sebagai penyedapnya. "Pliek-u" atau patarana adalah sisa atau ampas kopra (kelapa) yang minyaknya sudah diperas dengan alat tradisional yaitu dua bilah papan yang dipress dengan baut besar. Masyarakat di pedesaan Aceh, sejak masa jayanya Kerajaan Aceh sampai kini masih terus mengolah kelapa secara tradisional. Olahan kelapa ini menghasilkan minyak goreng yang disebut dengan "minyeuk reutik." Ampasnya tidak dibuang, tetapi dijemur kembali sehingga menjadi "pliek-u" yang berwarna hitam.

 Pliek-u memancarkan aroma minyak kelapa yang khas. Dalam tradisi masyarakat Aceh, "pliek-u" menjadi salah satu bumbu penyedap untuk mengolah sayuran menjadi gulai (kuah) pliek-u. Gulai ini sangat digemari oleh warga Aceh, baik yang masih tinggal di Aceh apalagi yang sudah lama di perantauan. Kuah pliek-u bagaikan sebuah wadah perekat warga Aceh yang tinggal di perantauan. Bila ada acara kangen-kangenan warga Aceh di rantau, dapat dipastikan bahwa hidangan utamanya adalah kuah pliek-u. Pliek-u juga sering digunakan sebagai bumbu rujak colek untuk pisang muda atau buah rumbia (buah pohon sagu). Kalau lagi tidak ada cemilan, maka alternatifnya adalah mencari pisang muda sambil membawa pliek-u dalam kantong plastik kresek. Sambil duduk dibawah batang pisang, tanpa terasa kita bisa menghabiskan satu sisir pisang muda. Pasangan pliek-u memang buah yang rasanya sepat (kelat) seperti pisang muda dan buah rumbia. Dengan campuran pliek-u rasa sepat buah tersebut akan ternetralisir.

Bagaimana cara membuat kuah pliek-u? Sangat mudah, rajang sayuran mulai dari nangka muda, daun melinjo ditambah buah melinjo muda, kacang panjang, kacang buncis, terong hijau, daun kangkung, daun singkong, dan buah labu siam. Bumbu pelengkapnya terdiri dari pliek-u sebanyak setengah gelas kecil, udang ebi, kepala ikan asin, ketumbar, cabe merah, cabe rawit, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, kelapa sangrai (gongseng), merica dan asam sunti (belimbing bulat). Setelah dirajang, sayuran itu direbus sampai matang sekitar 30 menit. Kemudian masukkan bumbu yang sudah digiling/diblender (kecuali udang ebi atau kepala ikan asin) tadi dalam sayuran tersebut. Biarkan bumbu-bumbu itu terserap oleh sayuran yang sedang mendidih tersebut. Gulai (kuah) pliek-u sudah siap untuk disantap apabila sudah mengeluarkan aroma khas, harum dan merangsang selera makan.

Gambar Kuah Pliek U
https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRx0rq0n5zAZysLUce4ySSUifvDwJXzPU0GAe7eKY70XdWa3v7O



Ø Bulukat(Kuah Tuhe/Kuah Pengat)

Di Aceh, selain kolak yang terbuat dari pisang dan ubi, ada satu lagi jenis kolak yang dibuat dengan menggunakan santan, pisang klat barat (sejenis pisang raja) dan isi buah nangka. Masyarakat Aceh menamai makanan ini dengan sebutan Bulukat Kuah Tuhe. Kolak bulukat kuah tuhe menjadi salah satu penganan khas warga Aceh. Kolak bulukat kuah tuhe disajikan dengan ketan yang dimasak secara terpisah itu memiliki rasa manis, gurih, legit dan lezat. Makanan ini hampir merata terdapat di seluruh Aceh lho, sobat traveler. Jadi, sobat traveler tak perlu kebingungan untuk mencari Kolak bulukat kuah tuhe ini ketika mengunjungi Aceh ya, sobat traveler.
sumber gambar: www.igsta.com

Cara membuatnya pun cukup mudah. Bahan membuat kuah terdiri dari santan yang menjadi kuahnya. Sementara pisang raja dan daging buah nangka yang telah dipotong kecil-kecil menjadi isi kolak. Agar lebih wangi, masakan tersebut diberi daun pandan. Diberi garam sedikit untuk menambah gurih rasa manis dan wangi kuah kolak.
sumber gambar: http://auliaoktavella.it.student.pens.ac.id/
Bila biasanya kolak disajikan saat bulan Ramadhan saja, sajian lezat ini tidak hanya disajikan dalam bulan Ramadhan. Bulukat kuah tuhe biasanya juga dihidangkan pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad. Kolak khas Aceh ini juga sering disajikan di hari-hari biasa lho, sobat traveler. Beberapa tempat seperti di meunasah atau di rumah-rumah penduduk yang memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tak lupa menyajikan Bulukat kuah tuhe sebagai hidangan siang hari, selain nasi dan lauk pauk. Lalu, kuah tuhe dimakan bersama ketan. Sebagai varian menu, biasanya pada malam hari juga disajikan bulukat kuah pengat.
Gambar Bulukat(Kuah Tuhe/Kuah Pengat)
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/236x/20/ef/7b/20ef7b10b574bb1d3d36b1118cd672bf.jpg


Ø Kuah Asam Keu-eung(Asam Pedas)

Asam keueng merupakan salah satu masakan khas Aceh  tampilan dan rasanya sebenarnya mirip-mirip dengan gulai asam padeh di Padang. Bedanya pada asam padeh, komposisi cabai merahnya cukup beragam sehingga tampilan kuahnya tampak merah membara. Untuk asam keueng walau bercita rasa pedas dan asam juga namun menggunakan porsi kunyit  sehingga warnanya terlihat kekuningan. Perbedaan lainnya  pada jenis asam  digunakan, umumnya asam padeh menggunakan asam kandis  terbuat di buah tanaman Garcinia xanthochymus  dikeringkan,  asam sunti terbuat di buah tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi). Dari segi rasa maka asam sunti memberikan rasa asam  lebih lembut, unik dan belum setajam asam pada asam kandis. Saya sendiri lebih suka rasa asam  dihasilkan oleh asam sunti, karena walaupun kita masukkan cukup beragam ke dalam masakan belum secara drastis membuat rasa masakan menjadi terlalu kecut. Selain penggunaan asam sunti, masakan asam keueng juga menggunakan daun rempah bernama daun kari atau salam koja. Daun ini memberikan fragrance khas kari  lembut membuat masakan asam keueng anda menjadi lebih spesial. Informasi mengenai daun bumbu ini bisa anda klik di weblink di sini.

              Asam keueng  berarti asam pedas  rasa  nano-nano, asam asin pedas menjadi satu dalam kuahnya  kekuningan. Tidak hanya terpaku pada ikan  bisa anda sebaiknya, udang pun lezat bila diolah dengan cara ini. Umumnya masyarakat Aceh menggunakan periuk tanah liat bila memasaknya tetapi dengan wajan pun (seperti  saya pergunakan) tetap lezat. Hmm, mungkin ini karena saya belum pernah mencicipi asam keueng  dimasak dengan periuk tanah liat. 

              Untuk membuatnya terbilang sangat mudah, bagian tersulitnya mungkin hanya pada dua bumbu rempah  digunakan yaitu asam sunti dan daun salam koja.

Gambar Kuah Asam Keu-Eung

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh11a1emP3_nR5ue-DHj6EpBdp5IbzvcGs1VXeYRTcJz9mtC1s8GA8JF1YVr1FOTLa1Lp2O3IBimOGphF2uLndPFCCnGiqNyswlgrAa4QqSMnHVfZVrbh37WNaV8WJ48BBqUEyfSuotQ-Q/s640/asam-keueng_1-620x465.jpg


Ø Kue Bhoi

Kue Bhoi merupakan salah satu penganan populer di Aceh. Bolu ini hadir dalam beragam bentuk seperti ikan, bunga atau bintang. Teksturnya yang lembut membuat kue bhoi enak disantap bersama ​secangkir kopi​ hangat.

              Bolu khas Aceh ini memiliki tekstur luar kering dan bagian dalam yang lembut. Rasanya manis namun tak berlebihan. Kue bhoi nikmat dimakan bersama segelas teh hangat atau kopi. Masyarakat Aceh pun suka mencelupkan kue bhoi dalam kopi panas​ sebelum disantap. ​T​ekstur kue jadi l​embut ​saat masuk ke mulut.

              Selain untuk santapan sehari-hari, kue bhoi juga jadi bagian dari tradisi Aceh. Kue bhoi dijadikan ​bagian ​seserahan dari pengantin pria untuk pengantin wanita pada acara pernikahan. Disamping itu bhoi banyak jadi buah tangan saat berkunjung ke rumah saudara atau hajatan seperti khitan dan kelahiran.

             Adapun proses pembuatan kue bhoi tidak terlalu rumit.
​ Mirip seperti kue bolu biasa. ​Bahannya hanya terdiri dari tepung terigu, gula pasir, telur, vanili dan soda​ kue​. Namun​,​ diperlukan keuletan dan kesabaran dalam pengolahannya.

             Pengocokan adonan harus tepat sebelum dimasukkan dalam cetakan khusus dari kuningan atau besi ​dan dipanggang hingga matang. Cetakan inilah yang membuat tekstur luar kue bhoi kasar dan dalamnya tetap lembut. Semakin sering cetakan dipakai maka akan semakin baik untuk memanggang adonan karena tidak lengket.

             Bentuk yang bervariasi menjadi daya tarik tersendiri dari kue bhoi.
​ Selain​ itu, kue bhoi juga bisa tahan disimpan hingga berbulan-bulan tanpa ​bahan​ pengawet. Gula dalam kue bhoi ​berfungsi​ sebagai pemanis sekaligus pengawet.

              Tak sulit mencari kue bhoi di Aceh. Baik toko kue maupun pasar tradisional menyediakannya dengan harga terjangkau. Karenanya ​kue bhoi kerap kali menjadi oleh-oleh dari Aceh.

Gambar Kue Bhoi

Kue Bhoi, Bolu Populer untuk Teman Minum Kopi



Ø Kue Timphan

Timphan adalah kue/hidangan khas Aceh disaat lebaran/hari raya baik hari raya Idul fitri maupun Idul Adha, Timphan ini dibuat 1 atau 2 hari sebelum lebaran dan daya tahannya bisa mencapai lebih kurang seminngu,Timphan adalah menu hidangan utama buat tamu yang berkunjung kerumah saat lebaran.

      Bagi orang Aceh baik yang berada di Aceh sampai seluruh dunia tiada yang tidak mengenal ama kue/adonan yang satu ini,karena sudah menjadi tradisi turun temurun dan rahasia umum di Aceh bahwa yang namanya Timphan setiap ibu-ibu atau wanita di Aceh biasa membuatnya.
      Timphan yang merupakan makanan lembek berbalut daun pisang muda ini yang paling terkenal adalah Timphan rasa srikaya. Sebelum menjelang lebaran bisanya ibu-ibu sudah menyiapkan daun pisang muda baik memetik di kebun atau beli dipasar.

     Saking terkenalnya Timphan ini di Aceh, sehingga banyak ungkapan/pribahasa dengan kata Timphan diantaranya yaitu “Uroe goet buluen goet Timphan ma peugoet beumeuteme rasa” ( Hari baik bulan baik Timphan ibu buat harus dapat kurasakan).

Gambar Timphan

http://widhiaanugrah.com/wp-content/uploads/2015/05/Resep-Membuat-Kue-Timpan-Labu-Yang-Enak1.jpg